Menuju 22

Sungguh aku takut tua. Sungguh aku takut setiap bertambah usia. Sungguh aku takut menghadapi ajal tiba…

Menghitung detik demi detik yang berjalan, setiap hembus nafas yang keluar. Setiap malamku kini adalah penasaran. Tentang apa yang akan terjadi di hari depan. Dewasa. Tua. Adalah dua kata yang sangat kubenci.

Dulu, di saat kecil aku sering berkhayal…

Ingin cepat gede. Ingin cepat dewasa. Karena dewasa itu keren, orang dewasa bebas melakukan apa saja. Tanpa takut kena marah ibunya, tanpa takut dijewer gurunya. Aku yakin, setiap anak kecil pasti bermimpi menjadi dewasa. Tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi pakai lipstick ibunya, atau high heels kakaknya. Pun juga denganku saat kecil, aku bahkan sering mengkhayal tentang sesuatu yang aneh. Sering menggambar seorang pengantin dengan kembang goyang melambai-lambai, dengan tibo dodo yang menjuntai dan berwangi semerbak… Ya, aku sering membayangkan jika besar nanti menjadi pengantin yang cantik, seperti yang sering kulihat jika tetanggaku berhajat. Aku ingin dirias sedemikian rupa. Dengan aneka bunga segar yang tersemat di sanggul kepala.

Kini, saat aku telah dewasa…

Baru aku sadari, jika kehidupan tak pernah seindah khayalan. Jika aku boleh meminjam mesin waktu doraemon, aku ingin kembali pada masa enam belas tahun yang lalu, saat aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Tak akan kubiarkan otakku berkhayal tentang kedewasaan, tentang kematangan, atau apalah sejenisnya. Sebab, menjadi dewasa bukanlah suatu kebahagiaan. Bagiku, dewasa adalah kutukan. Dimana kita harus berjuang ditengah suramnya kehidupan. Gonjang-ganjing keadaan, mengharuskan jiwa yang tegar untuk bertahan. Ah, andaikan aku bisa kembali balita, itu akan lebih baik daripada menjadi dewasa yang penuh dengan tipuan. Segalanya memakai bedak, memakai polesan. Dewasa adalah kutukan!

 

@buleg_darmi

22. Double Match.

Tuhan, tak banyak yang bisa kusampaikan. Terimakasih telah menambah usiaku, memperpanjang masa baktiku padaMu.

@buleg_darmi

Image

Merayu Senja

Secangkir teh kunikmati di beranda rumah. Semilir angin dan suara burung membelai anak rambutku yang kemudian menari-nari di daun telinga. Menggelitik manja, seperti gadis belia yang tengah jatuh cinta.

Kupandang mentari di ujung barat menuruni tangga perlahan. Disanalah ada keindahan yang tak sanggup ku ungkap dengan sajak Gibran. Senja, biarkan sejenak aku menikmati ronamu, rona permaisuri langit yang menjamah bumi penghidupan.

Senja ini adalah milik para dewa. Banyak cinta dan rindu tersebar di angkasa. Senja ini adalah milik kaum papa. Yang merasa bimbang hatinya jika dilebur cinta.

Maka senja jangan pergi jika belum usai kutulis sajak ini. Sambil mengingat sosok indah yang kini hadir disetiap mimpi. Senja jangan berlalu jika sajak ini belum sempat menggelitik hatinya yang biru. Sebab aku ingin dia paham, aku ada sesuatu.

Sayang, senja di kotaku terlalu indah kuceritakan. Bagaimana senja di kotamu?

@buleg_darmi

Song of Absolution

Dunia tidak seramah yang kamu bayangkan. Saat kamu asyik bersembunyi dibalik kain mamakmu, saat kamu terlena dibuai nyanyian penghujung tidur… Maka sadarilah betapa usiamu sudah bertambah dan saatnya kamu mengongkang senjata.

Dunia itu tak pernah semudah yang kamu bayangkan. Bagaimana kamu menyusuri tapak demi tapak pematang sawah yang tak mulus, banyak kerikil siap menusuk telapakmu. Janganlah menangis lantas lapor ibumu… Hadapilah sakit itu! Maka kamu akan tahu rasanya, bagaimana petani setiap pagi menabur benih hingga menjadi hidanganmu!

Dunia itu bukanlah bianglala yang selalu nampak indah… Dan kamu bermimpi akan menggapai asa dengan mudah. Itu bodoh benar! Heii… Di dunia ini bukan hanya kamu satu-satunya yang pintar! Bukan kamu satu-satunya makhluk Tuhan, maka mengantrilah dengan sabar untuk menjadi besar. Jangan kamu pikir bahwa air ledeng selalu lancar…

Maka tengoklah di luar jendela rumahmu, ada pengemis menangis kelaparan. Ada nenek tua gemetar mencari kehangatan. Bisakah kamu berlalu dengan kemunafikan, menganggap bahwa itu frase kehidupan?

Tuhan ada dalam hati setiap insan, mengajarkan bagaimana kita berpikir yang benar. Kemalangan bukan pilihan, justru disanalah kita dapat belajar tentang arti iman…

@buleg_darmi

Zha

Ingin kusebut engkau bagai pena yang menerjemahkan banyak kata. Engkau mengukir berbagai tawa menghapus gemuruh derita yang enggan berlalu.

Ingin kusebut engkau bagai rembulan yang datang menyinari bumi gelap. Kehadiranmu tak pernah kutunggu namun nyata kini aku melihatmu. Melihat binar dan letupanmu yang gembira. Bahagia.

Zha, bolehkah aku menyebutmu jemariku. Yang membuatku mengetik rindu tanpa sudah. Menulis kembali cerita hidup tanpa gundah.

Bagaimanapun aku menyebutmu, apapun caraku memanggilmu, bagiku engkau adalah keindahan.

Zha, saat kupanggil namamu. Selalu ada rindu yang bergemuruh dan enggan kuterjemahkan. Aku takut menanggapi rindu. Namun hatiku menanti tanpa jemu. Zha, bagiku kau adalah kata. Bahagia.

@buleg_darmi

Surat Kecil Untuk Hoshi

Dear Hoshi,

Happy nu year’s eve…

Malam ini berjalan seperti biasa. Seperti yang sudah-sudah. Datar tanpa ada detak cepat namun lembut dari jantungku. Malam ini, aku menyadari jika aku telah sendiri… Make a wish tanpa kamu.

Bertahun-tahun kita lewati bersama. 2006, 2007, 2008, 2009, 2010 berlalu seiring dengan nafas kita yang menyatu dalam cinta. Kini, malam pergantian tahun 2011 menuju 2012 aku terpekur sendiri. Menatap foto terakhir kita yang terkadang masih menyelipkan rindu menggunung di hati.

Dear Hoshi, setiap malam pergantian tahun kita berdoa bersama. Agar suatu saat kelak Tuhan menyatukan kita dalam pernikahan, agar secepatnya Tuhan menghimpun yang terserak diantara kita. Hampir setiap malam pergantian tahun kau selalu membuatku menangis. Antara haru, bahagia, dan sedih… Haru karena aku memilikimu yang mencintaiku tak kenal waktu, bahagia sebab kau pandai menyenangkan aku, serta sedih mengapa sulit sekali meyakinkan hati kedua orangtuaku untuk merestui.

Susah sekali menahan untuk tidak menangis demi merindukanmu. Merindukan sosok yang selalu memeluk ketakutanku, teman terbaik yang pandai menyimpan rahasiaku… Terkadang aku berpikir ini semua hanya mimpi. Disaat Tuhan memisahkan kita, justru ketika rencana pernikahan itu hampir matang.

2011 ini adalah tahun yang terasa berat untuk dilewati. Aku harus menghadapi hari-hari yang penuh ujian tanpa bantuan dan dukunganmu. Kadang aku bingung, kemana harus berlari dan mencari pundak untuk menangis yang biasa aku dapat darimu. Kau bukan hanya sekedar pasangan, namun juga sebagai orangtua yang melindungiku di peratauan. Seingatku, kau tak pernah membiarkan aku menangis sebab kau telah berjanji menjagaku dengan sebaik-baiknya.

Dear Hoshi, seberat apapun tahun ini sudah berhasil aku lewati dengan baik. Aku berhasil menyelesaikan pendidikan D3 seperti janjiku dulu. Meski tanpa kamu, tanpa kehadiranmu pada pesta wisudaku nanti. Tak kusangkal, aku ingin kau melihatku mengenakan toga, yang menandai berakhirnya perjuanganku di kampus ungu pilihan kita.

5 tahun lebih dan bahkan hingga saat ini aku masih mencintaimu, masih merindukanmu, dan masih takut tidak bisa mendapatkan lelaki yang sepertimu. Banyak hal yang aku takutkan setelah kepergianmu, namun aku selalu berusaha meyakinkan diri jika Tuhan telah menunjukkan jalan yang terbaik. Mungkin inilah yang dianggap penyelesaian itu. Aku harus berani menjalani kehidupanku sendiri, meskipun dengan tertatih bahkan kadang harus jatuh tersungkur. Bagaimanapun, aku harus tetap berjalan meneruskan hidup dan mencari pengganti yang dapat tulus mencintaiku. Sepertimu mungkin.

Malam ini 2011 akan berlalu. Terucap janji di hati. Aku akan bangkit, meski tanpa kamu. Meski dengan ketakutan dan cemas yang enggan berlalu. Aku akan bangkit, melanjutkan mimpi yang terserak, melanjutkan waktu yang tersendat. Akan aku buktikan jika aku masih tetap hebat meski tanpa berpegangan pada pundakmu.

Selamat tahun baru 2012, semoga kebaikan selalu tercurah untuk kita.

Mangkal

Demi segera menyelesaikan TA yang mangkrak, aku dan Sonya menggelar program khusus yang dinamakan “Mangkal”. Mangkal ini dilaksanakan 2 hari, pada tanggal 23 dan 24 November. Awalnya, kami sepakat untuk mangkal di KFC Ahmad Yani dengan pertimbangan mencari tempat nongkrong nyaman dan menyediakan “colokan” meskipun nggak gratis.

suasana ga sante, nongkrong seharian cuma mampu beli spaghetti -,-

Dan pada hari kedua mangkal, karena budget yang semakin terbatas, maka kami memutuskan untuk menghuni ruang lab bahasa inggris yang kosong. Disana sudah siap sedia dengan berbagai perlengkapan termasuk colokan T yang memungkinkan kami mencolok-colokkan berbagai jenis charger. Mulai charger BB, laptop, hingga termos ajaib. Dan jadilah acara mangkal selama 2 hari itu berhasil membuat aku dan Sonya menyelesaikan TA dengan aman sentosa meski berakhir galau. Aku terserang typhus!

english lab yang disulap jadi bilik darurat

Duka Ibu Direktur

Jumat, 25 November 2011

Dear Ibu,

Saya tahu bagaimana hancurnya hati Ibu. Saya paham Ibu masih sulit mempercayai semua ini. Saya yakin Ibu belum ikhlas menerima kepergian Bapak. Hari ini, saya pun juga tidak menyangka beliau akan pergi secepat itu. Sosok ramah dan sabar meski berlatar belakang militer yang kental… Ibu, saya juga turut kehilangan!

Sore ini, dengan segenap kekuatan saya melajukan motor menuju Surabaya. Bagaimanapun sakitnya badan, saya harus menemui ibu dan memeluk yang erat. Saya harus menguatkan Ibu meski kehadiran saya tidak mampu mengurangi kesusahan yang Ibu pikul. Ibu, ijinkan saya menjadi “sesuatu” meski tak mungkin menjadi “segalanya.” Ijinkan saya memberi pundak untuk Ibu menangis, bagilah gundah Ibu pada saya… Meski tidak bisa merubah kenyataan dan memperbaiki keadaan.

Ibu, melihat wajah ayumu sendu ada nyeri yang terasa disini. Tak sampai hati melihat kesedihan Ibu yang berlarut-larut. Saya merasakan betapa dalamnya rasa cinta Ibu pada Bapak, Tuhan pun mengetahui jika Ibu telah melakukan yang terbaik selama menjadi pendamping beliau. Malaikat pun telah mencatatnya.

Jangan sedih lagi Ibu, tolong hapus airmatanya. Bangkitlah menatap hari-hari yang akan berjalan di depanmu. Hidup masih panjang, dan Ibu akan selalu menjadi wanita hebat sepanjang masa. Dengan kecantikanmu, dengan kepribadianmu, dengan segala kebaikanmu… Bersinarlah kembali seperti biasa. Jangan menangis. Kirimkan doa terbaik untuk Bapak, semoga bahagia selalu disana. Mendapat tempat terindah di sisi Tuhan.

-Poet-

       

“Raga boleh saja mati, namun cinta sejati takkan bisa mati. Selamat jalan, Bapak. Kami semua mencintaimu…”

Napak Tilas (Part. 1) “Balada Si Ayu Tong-Tong”

*Akhirnya malam ini TA ready to serve*

Dengan galau aku berniat mengantar berkas ini sendiri dari kosan Yuan di ITS menuju rumah Ibu Diah di Jalan Wonoboyo dekat Sutos. Sedikit mengingat kalo dulu aku pernah kesana diantar Hoshi. Dan kali ini aku harus mandiri, berjuang sendiri tanpa bantuan peta darinya. Biasanya dia selalu berperan sebagai “Dora” disetiap perjalananku. Bersama dia aku ngga pernah takut tersesat dan salah jalan… Tapi sudahlah kenapa harus ingat-ingat lagi. Bukannya aku udah janji bakal move on?

Start dari ITS aku menuju arah Semolowaru. Lagi-lagi harus teringat Hoshi dan disambut sejenak hujan ringan dari kelopak mata saat melewati warung penyetan di tepi jalan itu… Dulu aku pernah menghabiskan malam disana bersama dia, saat aku berhasil membawa bandnya menuju masa keemasan. Dia begitu bangga menceritakan aku di hadapan teman-teman Sweet Romance. Memamerkan kehebatanku merombak band hingga menemui masa kejayaan. Kemudian dengan spontan memelukku dan menatap mataku dalam-dalam seakan ingin menyatakan cinta yang seluas lapangan kodam…

*brb hapus airmata sambil benerin maskara*

Semolowaru lewat, sekarang saatnya menuju Jagir. Dinginnya malam menusuk badan, lemak-lemakku tak mampu menghalaunya. Sebetulnya masih galau juga, lupa-lupa ingat rute menuju Jalan Wonoboyo. Ah… Andaikan ada Hoshi…

Masih galau. Aku terus mengemudikan Beaty dengan kecepatan normal mengikuti arah insting yang kacau. Untuk menuju Wonoboyo harusnya melewati Sutos. Tapi jalan menuju kesana saja aku sudah lupa lagi. Entahlah, sepeninggal Hoshi aku jadi kagok begini. Berasa orang udik yang ga familiar dengan Surabaya (>,<)

Entah kenapa aku masih saja bingung. Dan bingung itulah yang membawa aku sampai Raya Darmo. Aku memutuskan menetralisir pikiran dengan menuju kesana. Aku dan Hoshi selalu menganggap bahwa “jalanan tengah” akan mudah menjangkau mana saja. Maka aku pun menuju kawasan Bintoro. Yap, benar saja itu lokasi kantorku yang lama. Dimana disitu juga banyak tergores kenangan bersama Hoshi, tentang pengorbanan dia mendampingi awal karirku di AXA cabang imam bonjol sebelum dipindah ke cabang darmo.

*galau lagi*

Aku coba membunuh bayangan dia dengan menyanyi kecil, kadang bersholawat dan beristighfar. Ya Allah, jika memang Kau telah pisahkan kami maka berikan aku lelaki yang sebaik dan setulus dia yang pernah mendampingi setiap kelemahanku di perantauan…

Sedikit mewek tapi langsung berhenti karena kepentok polisi tidur. Ebusyeeet hampir aja akrobat…. Huft. Gara-gara Hoshi….!!!!! T.T

*ceritanya udah nyampe Sutos, lanjut Kodam*

Ada apa sih kok rame banget? Polisi berjaga dimana-mana, macam cowok kece yang pada ngikut take him out, pada show off di pinggir-pinggir jalan menanti jodoh. Ah, andaikan boleh bungkus satu bawa pulang aku pasti pilih yang berdiri dibawah pohon itu… *mendadak ngelantur*

Lanjutin perjalanan dari kodam, aku semakin galau dimana letak Wonoboyo. Bener-bener kerasa udik ditengah kota sebesar Surabaya. Dua kali nanya polisi juga kagak ada yang tau. Yang ada aku semakin galau dan meningkat menjadi semacam frustasi.

Daerah ini dekat dengan rumahnya Pak Priyo, kyai yang biasa aku dan Hoshi kunjungi sebelum rencana menikah dulu. Dan sebetulnya aku menjauhi sekali jalur ini. Tapi apa daya, kali ini harus dilewati demi mengantar berkas TA.

Nyampe disini sebetulnya aku udah putus asa pengen puter balik menuju arah Jogoloyo dan bablas ke Gresik. Badan udah drop dengan sedikit hasrat untuk mual-muntah. Namun ketika aku menyadari untuk apa tujuanku kesini, aku juga semakin galau. Hoshi… Andai kamu tahu betapa susahnya aku sepeninggalmu.

Beruntung aku ketemu beberapa orang yang bisa kasih petunjuk jalan. Ok, one step closer menuju Wonoboyo. Tapi begitu sampai disana, tetep aja masih galau yang mana rumahnya. Aku puterin berkali-kali Jalan Wonoboyo cuma nemu gang satu, trus gang dua ada dimanaaaa????!!! Hampir frustasi deh, ini mualnya semakin payah :(

Setelah bertanya kesana-kemari bagaikan Ayu Tong-tong, finally touch down di depan pintu pagar rumah ibu dosen. Lemas, aku mengucap salam… Seorang anak kecil nan lucu imut-imut membuka pagar.

“Dek, mamah ada?” tanyaku dengan senyum maksa banget. Anak kecil itu tanpa menjawab udah langsung ngacir aja kedalam. Pasti manggil mamahnya, pikirku.

Sambil menunggu, aku menyelonjorkan kaki di kursi halaman. Tak berselang lama, sang ibu dosen menghampiriku yang sudah kepayahan.

“Puput ya? Masuk sini Nak…,” sambutnya ramah.

“Makasih Ibu, disini saja. Saya sudah lemes abis nyasar tadi.”

“Loh kok nyasar? Dulu kan sudah pernah kesini… Diantar siapa kamu?” aku lihat mata bu dosen melongok keluar. Pasti mencari-cari sosok yang dimaksud. Yah, siapa lagi kalau bukan Hoshi. Lelaki yang selalu mengantarku kemana saja, mendampingiku kapan saja.

“Saya sendirian Ibu. Tadi nyetir jauh-jauh kesini,” jawabku kaku.

Aku melihat wajah ibu dosen yang masih penasaran namun tak tega bertanya lebih jauh. Aku kembali galau. Hoshi, akhirnya malam ini aku bisa melalui cobaan sendiri. Semoga dengan ini aku akan semakin mandiri dan tidak bergantung padamu lagi.

1 desember 2011, 23.00

@buleg_darmi

Pagi Ini Aku Mencintaimu

Pagi ini aku memilihmu untuk mengisi relung batinku. Pagi ini aku memilihmu untuk mendekap harapan-harapanku. Pagi ini sayang, kau harus tahu aku tengah merindukanmu.

Pagi ini aku memilihmu untuk menghiasi ruang doaku. Semoga dimanapun kau berada, berkah dan rahmat Tuhan selalu jadi milikmu. Kemanapun kakimu melangkah semoga ditujukan untuk jalan Tuhan yang akan membawamu menuju lautan rizki yang halal.

Sayangku, bagiku pagi adalah doa. Dan aku tak pernah melewatkan kesempatan untuk berdoa pada Tuhan. Untukmu. Untukku. Untuk kita berdua. Semoga kasih sayang-Nya selalu mendampingi hari-hari kita.

Sebab aku mencintaimu pagi ini, tak kurang dari pagi yang kemarin dan pagi-pagi berikutnya.


Yang mencintaimu,
POET

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.